RSS
Facebook
Twitter

Senin, 19 Agustus 2013

Kami, yang sudah tidak punya ibu

13 Juli 2010 adalah salah satu saat terberat bagiku dan adik-adikku.
Dan Bapak.
Hari Selasa, hari dimana Allah memanggil ibu yang kami cintai, membebaskankannya dari sakit 2 tahun terakhir.
Kami mengikhlaskan kepergiannya, pada akhirnya.
Setidaknya, ibuku sudah tidak lagi merasa sakit. Setidaknya, tempatnya kini jauh lebih baik.

Usiaku 25 kala itu. Adik pertamaku 23, dan adik keduaku 19.
Kami segera menjadi tim solid yang saling menguatkan. Bagaimanapun, bukan hanya kami yang diuji seperti ini dan berhasil melaluinya dengan nilai memuaskan.
Baru kusadari bahwa adik pertama ku sudah tumbuh dengan baik. Pemikirannya bukan lagi layakya remaja, tapi sudah seperti pria. Yang bisa diandalkan.
Kata adikku, all is well.
:)

Bapak mencintai ibuk begitu dalam. Namun beliau tetaplah seorang pria yang membutuhkan pendamping. Aku tahu, ini hanya masalah waktu.
4 bulan setelah ibuk meninggal, Bapak meminta izin menikah lagi. Meskipun aku sudah bersiap untuk itu, tapi tetap saja.
Untunglah adik pertamaku mampu meyakinkanku. Katanya, bagaimanapun ini lebih baik, mengobati kesepian bapak dan menjaganya saat anak-anaknya jauh.
Kami mengikhlaskannya, pada akhirnya.

Aku tidak sedang membahas tentang adik pertamaku. Seperti yang telah tertulis sebelumnya, dia sudah bertumbuh dengan baik. Tiba2 saja kusadari bahwa dia cukup pintar dan punya kebijakan. Usianya sekarang 26, sudah menjadi pegawai bank swasta, dan bersama calon istrinya membuka warung soto. Yang keduanya berjalan dengan baik.
Adik pertamaku ini, bicaranya sedikit. Susah euy kalo ngobrol sama dia. Tapi yah lumayanlah, kalo dia masih butuh saran, dia masih ingat kakaknya.

Lain halnya dengan adik keduaku. Status "anak bontot"nya begitu melekat. Bapak dan Ibu memang tidak pernah memperlakukan kami berbeda-beda, tapi adik keduaku ini..... dia...... yahhh..... istimewa, dengan caranya sendiri.
Perasaannya halus, tapi sifatnya keras kepala. Sesukanya sendiri, seperti tidak ada yang ditakuti. Bahkan Bapak, yang dimataku begitu penuh wibawa dan kharisma, tidak ditakutinya.
Menjalin komunikasi dengannya tidak mudah. Mengetahui apa yang dia mau, tambah susah. Dia punya aturan sendiri, yang seringkali berubah-ubah,yang seringkali tidak bisa kami, keluarga dekatnya, pahami.

Tidak adanya ibuk seakan-akan semakin mempersulit komunikasi dengannya. Dia bersedih sendirian, hal mana yang tidak dia tampakkan di hadapan kami. Syukurlah, anak itu punya kelebihan luar biasa untuk membuka jaringan. Teman-temannya banyak. Mulai dari pengusaha, teman main bola, teman naik gunung, teman angkringan, sampe kernet angkotpun rasanya dia punya kenalan. Kalo lagi jalan sama dia, sudah hampir pasti banyak yang memberi salam di jalan. 

Agustus 2013 adalah salah satu saat istimewanya. Adik keduaku itu, si bontot kesayangan kami, mau diwisuda. Diploma akuntansi. Wah, keren sekali.

Yang membuatku sedih adalah jadwal wisudanya. In the middle of the week. Agak susah bagiku untuk mengambil cuti di tengah2 minggu, pun kakaknya dia (adik pertamaku maksutnya). Ini adalah salah satu saat istimewanya. Meskipun aku tidak akan pernah bisa menggantikan ibuk, aku ingin disana sekadar berbahagia menyaksikan keberhasilannya. Aku sebenarnya mengharuskan diriku untuk hadir di acara-acara semacam ini, yang datang sekali-sekali, karena aku sehari-hari tidak pernah menyapanya secara langsung. Tapi agustus 2013 ini, entahlah...

Kami, yang sudah tidak punya ibu,
Ingin rasanya selalu bersama-sama, terutama di saat istimewa,
Saling menggantikan dan mengingatkan pada sosoknya,
Saling menguatkan dan memberi tawa bahagia.

Aku selalu bangga padamu, dan padamu,
Dan aku selalu menyayangimu, dan kamu,

Jagalah mereka, adik-adikku, Allah,
Dengan sebaik-baik penjagaanmu.







0 komentar:

Posting Komentar

  • Blogger news

  • Blogroll

  • About

    Welcome Readers! This is a story about me and my life Some papers full of Grateful towards The Almighty. Happy reading!